Video Trending



loading...
Judul:Ternyata TGB Adalah Orang Maiyah
Durasi:00:10:03
Dilihat:119,885x
Diterbitkan:05 April 2018
Sumber:Youtube
Suka Ini ?:

MH. Ainun Najib, Budayawan sekaligus ulama kondang yang kerap berfikir beda dari biasanya ini menganggap bahwa Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) bukan merupakan kepala daerah hasil Pilkada. Dia menganggap masyarakat kultural mendaulat TGB menjadi pemimpinnya.

“Jadi Pilkada itu hanya resepsi. Karena sebelumnya, kakek dari Tuan Guru (Bajang) ini adalah pendiri Nahdlatul Wathan yang sudah jadi pemimpin masyarakat NTB, dan beliau memang trah(keturunan) yang sudah selayaknya didaulat menjadi pemimpin di NTB,” kata Cak Nun saat menyambut TGB yang hadir dalam kajian Mocopat Syafaat Cak Nun dan Kyai Kanjeng di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (17/06).




TGB dikatakannya, sudah sangat mendekati konsep kepemimpinan dalam islam. Masyarakat yang menginginkan seseorang menjadi pemimpin, bukan sebaliknya calon pemimpin yang ingin didaulat rakyat. Begitulah idealnya pemimpin menurut Cak Nun.
Baca Juga


“Ngga ada menjadi ma’mum karena disuruh oleh imam, yang ada menjadi imam didaulat oleh ma’mum. Seharusnya kepemimpinan seperti itu. Tapi karena kita masih demokrasi, ya apa boleh buat?” ujar Cak Nun dilansir dari jogjakartanews.

Inilah yang dimaksud Cak Nun dengan TGB mengikuti Pilkada hanya untuk memenuhi formalitas demokrasi. Sebab dikatakan dia, Indonesia menganut paham demokrasi seperti banyak negara lain di dunia.

Pola kepemimpinan seperti di NTB saat ini tidak banyak ditemui di Indonesia, bahkan dia mengatakan, hal tersebut hanya dilihatnya di NTB sementara ditempat lain tidak jelas.

Diketahui bahawa di NTB, khususnya di Lombok, sejak dahulu memang menganut kepemimpinan imamah. Ini dibuktikan dengan gelar yang diberikan untuk pemimpin di Lombok bernama Datu yang memiliki tugas sebagai Pemban atau pengemban tanggung jawab mengurusi rakyat. Bukan kepemimpinan warisan seperti monarki dalam kerajaan yang bisa diwariskan namun merupakan pengakuan dari masyarakat.

Hal ini setidaknya yang pernah disampaikan oleh budayawan sasak, H Lalu Anggawa belum lama ini kepada kicknews.

“Di Lombok sejak dahulu tidak ada raja namun yang ada adalah Datu. Bukan kerajaan tapi kedatuan dimana pemimpin didaulat oleh rakyat karena pengakuan akan kemampuannya memimpin dan sopan santun juga agama,” kata Anggawa.

Menurut dia, ini sangat dekat dengan sistem kepemimpinan khalifah seperti yang Islam ajarkan meskipun saat itu ajaran Islam belum masuk di Lombok, sehingga dikatakannya, begitu Islam masuk maka langsung dapat melebur bersama adat dan budaya masyarakat

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 64 tahun) adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora patheken". Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10 sampai15 kali per bulan bersama Gamelan Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40 sampai 50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Kajian-kajian islami yang diselenggarakan oleh Cak Nun antara lain:

Jamaah Maiyah Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah salah satu forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender, yang diadakan di Jakarta setiap satu bulan sekali.
Mocopat Syafaat Yogyakarta
Padhangmbulan Jombang
Gambang Syafaat Semarang
Bangbang Wetan Surabaya
Paparandang Ate Mandar
Maiyah Baradah Sidoarjo
Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali
Juguran Syafaat Banyumas Raya
Maneges Qudroh Magelang
Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

BAGIKAN KE TEMAN ANDA


loading...